Facebook (disingkat: FB), siapa yang tidak kenal? Situs jejaring sosial ini semakin ngetrend. Para penggunanya tidak hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa, tetapi meluas hingga ke kalangan para guru, pejabat, politisi, seniman, atau budayawan. Dari anak-anak, remaja, orang tua, sampai kepada kakek dan nenek (canggih juga tuh ‘nenek-nenek’ n ‘kakek-kakek’).
Banyak pihak yang menyoroti efek/dampak negatif dari FB, meskipun disadari FB juga ada dampak positifnya. Tidak hanya itu, FB juga bisa membuat seseorang menjadi malas dan bodoh. Hasil studi Ohio State University menyebutkan “Semakin sering Anda menggunakan Facebook, semakin sedikit waktu Anda belajar dan semakin buruklah nilai-nilai mata pelajaran Anda” (Sumber: masakgos.com).
Akhir-akhir ini FB kembali menjadi bahan pemberitaan yang hangat di media massa. Beberapa pengguna facebook dilaporkan telah menjadi korban. Laporan dari pihak Komnas HAM diperoleh lebih dari 100 orang anak yang hilang akibat pertemanan facebook (Masya Allah…!!!). Para korbanya rata-rata remaja putri, baik ia sebagai pelajar (SMP atau SMA) maupun sebagai mahasiswa. Dari hasil menyelusuri kami terhadap beberapa situs diperoleh informasi tentang para korban facebook:
- Marietta Nova Triano (14 tahun), siswi salah satu SMP Surabaya telah menghilang dari rumah tantenya di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan (sumber: kaskus.com).
- Aisyah Safira (14 tahun), pelajar kelas 3 SMP di Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.
- Rohmatul Latifah Asyhari (16 tahun), remaja putri warga Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang (sumber: smpraq-bangil.com).
- Empat pelajar dikeluarkan dari SMA Negeri 4 Tanjungpinang Kepulauan Riau gara-gara ia menghina gurunya melalui facebook (sumber:metrobalikpapan.co.id).
- Rakhma Safitri (19 tahun), mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbidi) Bakti Asih Purwakarta (sumber: metrobalikpapan.co.id).
- Sylvia Russrina (23), mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah (sumber: antara.co.id).
Modus operandi anak baru gede (ABG) yang hilang lewat pertemanan FB ini bermacam-macam. Mulai dari saling memperkenalkan diri, saling tegur, saling sapa melalui dinding facebook, kemudian si korban dirayu, dan setelah itu mengadakan perjanjian untuk kopdar (kopi darat). Si korban yang sudah termakan rayuan akhirnya setuju, di situlah si korban baru mengetahui bahwa ia telah menjadi sasaran empuk.
TIPS Menghindari Korban FB
Banyaknya kasus anak baru gede (ABG) yang hilang akibat pertemanan FBmembuat para pengguna harus berhati-hati terhadap orang yang baru dikenal. Kami mempunyai beberapa TIPS untuk menghindari korban FB yang mungkin bisa bermanfaat bagi para siswa (khususnya kaum putri).
- Jangan mudah percaya dengan orang yang baru Anda kenal.
- Selidiki dan cari tahu informasi status orang yang baru dikenal melalui orang lain yang dapat dipercaya.
- Jangan gampang tergoda dengan rayuan maut dari seorang lelaki yang baru Anda kenal.
- Jangan terburu-buru untuk menerima tawaran KOPDAR jika orang tersebut belum Anda kenal secara mendalam.
- Jangan mudah memberikan nomor HP atau menuliskan nomor HP pada profil FB karena Anda akan terus ditelepon dan terus dirayu oleh orang tersebut.
- Mintalah saran atau pendapat dengan orang tua atau teman Anda jika orang yang baru Anda kenal mau mengajak KOPDAR.
- Jika terpaksa ingin mengadakan KOPDAR (Kopi Darat), jangan datang sendirian. Ajaklah teman-teman Anda yang lain (usahakan ajak teman laki-laki).
Sejumlah remaja telah menjadi korban karena berinteraksi secara aktif dalam jejaring sosial Facebook.
Seorang anak remaja berusia 18 tahun hari Selasa divonis bersalah oleh pengadilan karena dianggap menghina temannya melalui jejaring sosial Facebook.
Pengadilan Negeri Kota Bogor, Jawa Barat, menganggap anak itu melakukan tindak pidana memfitnah.
Sebelumnya seorang remaja asal Kota Tangerang harus berurusan dengan aparat kepolisian setempat karena dianggap melakukan pelanggaran hukum terhadap teman perempuannya yang dikenal melalui jejaring Facebook.
Ini adalah kasus yang kesekian kalinya terkait jejaring sosial seperti Facebook.
Sebuah riset yang dilakukan situs jejaring sosial Yahoo di Indonesia melaporkan pengguna terbesar internet di Indonesia adalah remaja berusia 15-19 tahun yakni sebesar 64%.
Sementara itu Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet menyebutkan, tahun lalu pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta, dimana pertumbuhannya setiap tahun rata-rata 25%
Pelecehan seksual
Dari 36 kasus itu, jejaring sosial Facebook banyak dimanfaatkan dalam bentuk negatif dan menjebak anak menjadi korban jejaring sosial Facebook
Aris Merdeka Sirait
Sebuah laporan yang mengutip data Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebutkan mereka telah menerima 100 laporan anak hilang yang diduga akibat aktivitas pada jaringan pertemanan di situs jejaring sosial
Sementara itu Sekjen Komisi Perlindungan Anak Nasional Aris Merdeka Sirait mengatakan dari Januari sampai pertengahan Februari terdapat sekitar 36 kasus terkait Facebook.
Sebanyak 21 kasus penjualan seksual komersial melalui Facebook terjadi di Surabaya, katanya.
"Sedangkan 11 kasus lainnya ada di Jakarta juga menggunakan facebook. Anak-anak berusia 14 tahun dan 15 tahun dijadikan pelampiasan kebutuhan biologis orang," ujar Merdeka Sirait.
Ditambahkan pula ada enam kasus lainnya melalui Facebook menjadi korban pelecehan seksual
"Dari 36 kasus itu, jejaring sosial Facebook banyak dimanfaatkan dalam bentuk negatif dan menjebak anak menjadi korban jejaring sosial Facebook," tandasnya.
Sedangkan menurut Ketua Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, situs jejaring sosial marak digunakan oleh anak-anak maupun remaja sebagai tempat berkeluh kesah.
Ini disebutnya lazim terjadi karena mereka merasa tidak diperhatikan oleh sekolah maupun keluarga.
Data yang dimiliki Komnas Perlindungan Anak, sekitar 53% pemakai Facebook di Indonesia adalah remaja berusia kurang dari 18 tahun..
Contoh berita korban Facebook:
1. ASS, 14 tahun, korban penculikan dan pemerkosaan oleh teman Facebook-nya, Catur Sugiato, 24 tahun, tidak dapat kembali ke sekolah. Siswi kelas IX SMP Budi Utomo Depok itu dilarang mengikuti pelajaran oleh sekolahnya.
"Anak saya tidak boleh sekolah lagi. Ketika diumumkan di lapangan upacara, memang tidak langsung menyebutkan nama anak saya. Tapi selesai upacara anak saya tidak boleh masuk kelas," kata ibu kandung ASS, Rauden Gultom, kepada wartawan, Senin, 8 Oktober 2012.
Padahal, hari ini adalah pertama kalinya siswi itu menginjakkan kaki di sekolah lagi. Sebelumnya dia diculik sopir angkot D03 jurusan Parung-Depok pada 23-30 September 2012. Menurut Rauden, sekolah tidak menerima ASS karena dianggap telah mempermalukan dan tidak menjaga nama baik sekolah. "Anak saya hanya nangis-nangis di depan kelas," katanya.
Rauden mengaku tidak terima dengan perlakuan ini. Sebab, sekolah tidak menghargai ASS sebagai korban. Apalagi, ketika ASS masuk kelas, dia disuruh keluar lagi dan membawa tas.
"Sebelumnya dia hubungi saya melalui telepon temannya kalau saya dipanggil kepala yayasan," katanya. Tapi ketika Rauden mendatangi kepala yayasan ternyata tak ada respon. Rauden pun menghampiri anaknya yang sedang menangis di depan kelas.
"Tapi yayasan tidak kasih anak saya sekolah lagi. Saya tidak terima," kata dia. Atas kejadian ini, Rauden berencana akan melaporkan ke Komisi Nasional Perlindungan Anak.
ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengatakan sudah mendengar cerita itu dari Rauden. "Sangat disesalkan kejadian ini," katanya. Perlakuan yang diterima ASS, kata Arist, sangat tidak adil. "Dia sudah menjadi korban, tapi masih mendapat perlakuan demikian dari sekolah."
Sampai saat ini pihak sekolah belum bisa dimintai keterangan soal kejadian ini. Sebelumnya, ASS diculik dan diperkosa di Parung dan Ciseeng, Bogor, sebanyak tiga kali. Kasus ini kini ditangani Kepolisian Bogor.
Ayah korban, Wahyudin, di rumahnya jalan Jembatan Dua kelurahan Bojong Rawa Lumbu, Kecamatan Rawa Lumbu Kota Bekasi, mengatakan, sejak Rabu (24/2) anaknya tidak pulang ke rumah setelah sebelumya minta izin pergi ke warnet.
"Saya mengharapkan Devi secepatnya pulang atau memberitahu keberadaannya agar bisa dijemput. Kami takut jika ia menjadi korban penculikan seperti kasus-kasus Facebook sebelumnya," ujar Wahyudin dengan wajah cemas.
Ia meminta agar warga yang mengetahui keberadaan Devi bisa menghubungi dirinya. Devi sendiri memiliki ciri berupa rambut lurus sebahu, tinggi 145 Cm, dan mata sebelah kiri agak juling.
Kasus hilangnya Devi, menurut Wahyudin sudah dilaporkan ke aparat Polsek Bekasi Timur.
Devi yang merupakan siswa kelas 6 SD itu sebelumnya sering pergi ke warnet selama berjam-jam dengan alasan mengerjakan tugas-tugas sekolah.
"Saya tidak terfikir akibat Facebook tersebut Devi jadi hilang. Dengan alasan mengerjakan tugas-tugas ia diizinkan ke warnet," ujar Wahyudin.
Anak kedua dari empat bersaudara itu sebelumnya tidak pernah meninggalkan rumah dan memiliki teman lelaki.
Sebelum kejadian, tetangga sebelah rumah Devi sering mendengar percakapan korban dengan seorang pria yang mengaku bernama Hendra, dan bekerja sebagai pelayan rumah makan serta mengamen pada malam harinya.
Keluarga Devi sangat mengharapkan agar anak mereka itu bisa pulang secepatnya.
3..Eno si Gadis SD Korban Facebook yang Hilang 13 Hari, Akhirnya Pulang
Akhirnya, Eno si Gadis SD Korban Facebook ini kembali ke rumah. *ist
Gadis cilik SD, Eno Wahyu Sri Pamungkas (12) asal Jombang, Jawa Timur, yang hilang 13 hari akibat korban facebook, akhirnya ditemukan orang tuanya.
Seperti diberitakan, Eno siswa SD Kelas V asal Dusun Kemodo Selatan, Desa Dukuhmojo, Kecamatan Mojoagung, Jombang itu, menghilang dari rumahnya sejak 11 November 2012. Menurut saksi mata, Eno dibonceng dua pria, yang menurut temen-teman Eno, merupakan kenalan lewat facebook.
Baca juga: Oh, Eno Siswi SD Kelas V Seminggu Ini Hilang Dibawa Kabur Dua Lelaki danBocah Umur 7 Tahun Hilang Usai Nonton Topeng Monyet
Ketua Lembaga Perlindungan dan Pendampingan Anak (LP2A) di Jombang, M Solahudin, menduga, Eno jadi korban trafficking atau perdagangan anak. “Eno sudah kembali ke rumah Sabtu (24/11/12) Pukul 06.00 WIB,” jelas M Solahudin kepada wartawan di Jombang, Minggu (25/11/2012).
Menurut Solahudin, Eno kembali ke rumah diantar tukang ojek dari terminal Mojoagung. Sebelumnya, bocah ini diantar seseorang dari Surabaya.
Eno diduga belum bisa bicara secara jujur apa yang dialaminya selama 13 hari menghilang. Ia hanya mengaku, kalau dipekerjakan di tempat loundry dan dijanjikan gaji sebulan Rp 350 ribu.
Dia juga mengaku sengaja minta dipulangkan, karena tidak betah dipekerjakan tanpa istirahat. Namun, menurutnya, juragannya menolak. Dia kerja sehari hanya istirahat satu jam. Makan pun hanya dijatah sehari sekali. Bahkan, sering jadi sasaran kemarahan bila kerja tidak betul.
Menurut Eno, juragannya terpaksa memulangkannya setelah media massa ramai memberitakan Eno yang menghilang dari rumah. “Juragannya ketakutan setelah menyaksikan tayangan televisi, kemudian menyuruh Eno pulang,” tambah Solahudin.
Menurut Solahudin, dua pria yang membawa Eno ke Surabaya itu baru dikenal lewat situs facebook. Eno sempat dibawa tiga hari di Bojonegoro, Jawa Timur oleh kedua pria itu. Salah satu pria itu memang tinggal di Bojonegoro. Kemudian, Eno dibawa ke Surabaya.
“Eno sempat dibius hingga tak sadarkan diri saat dibawa ke Surabaya. Saat itu, Eno sebenarnya sudah minta pulang,” jelas Solahudin.
Solahudin yakin Eno korban traficking dengan modus penculikan. “Eno cerita bahwa ketika di Surabaya, tubuhnya sempat dilihat-lihat seorang perempuan sambil berkata; keciliken arek iki, gak payu (kekecilan anak ini, gak laku, red),” pungkas ketua LP2A) itu. Ini meyakinkan Eno sempat ditawarkan ke ‘germo’ di Surabaya untuk perdagangan seks komersial.
Nah, karena tidak jadi dibawa perempuan itu, selanjutnya korban dipekerjakan di tempat loundry. “Karena lokasinya di Surabaya, kita berharap Polres bisa berkoordinasi dengan Polda untuk menuntaskan kasus ini,” pungkasnya. Dengan demikian, diharapkan aparat kepolisian bertindak sigap, agar tidak terulang gadis-gadis cilik di daerah gampang jadi korban trafficking akibat maraknya anak-anak di daerah gandrung internet jejaring sosial. @bjt
4.Nasib naas menimpa seorang siswi SMA Swasta di Jakarta Timur. Sebut saja NR (15) ia diperkosa oleh belasan orang setelah kenalan lewat jejaring sosial facebook.
Hingga saat ini Rabu (13/3), korban masih mengalami perawatan intensif dan telah ditangani oleh satu tim yang terdiri dari 5 dokter di RS Bhayangkara, Sukamto,Jakarta Timur, Sejak Selasa (12/3).
Bahkan pelajar Kelas 1 SLTA itu kondisinya masih belum bisa dimintai keterangan karena masih shock. Sedangkan untuk kasusnya ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur.
Informasi yang dihimpun peristiwa perkosaan terhadap gadis remaja tersebut bermula ia berkenalan seorang pemuda tidak dikenal melalui jejaring sosial facebook. Dalam kenalannya itu pelaku yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya itu mengajak pertemuan dengan korban disalah satu hutan kota di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Tanpa curiga, gadis lugu itu menyanggupi untuk datang ke lokasi dimana yang sudah ditentukan.Sesampainya di lokasi ternyata ada 12 teman pelaku sudah menunggu. Gadis ABG itupun langsung di perkosa oleh tiga belas pria brandal itu secara bergiliran.
Sementara itu dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Dr Arief Wahyono mengatakan korban dibawa ke rumah sakit pada Selasa (12/3) dini hari.
Pasien masuk pukul 03.15 pagi, korban berinisial NR usia 15 tahun, saat ini korban masih tahap pemeriksaan visum, dan masih berada di rumah sakit bagian pelayanan penyakit terpadu (PPT), kata Arief.
Lebih lanjut ia mengatakan memang secara fisik saat ini kondisi korban sudah mulai membaik dan dalam keadaan sadar.Namun, mental psikologis korban agak menurun, pihaknya mengerti hal itu karena korban masih muda dan baru mendapat musibah yang mengerikan seperti itu.
Arief menambahkan pihaknya tidak mau merinci lebih dalam kondisi korban saat ini Pasalnya pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan atas dugaan perkosaan yang dialami oleh korban.
Korban sendiri kondisinya ada pendarahan.Kemungkinan korban diperkosa saat haid. Memang dari hasil pemeriksaan sementara ditemukan ada tanda kekerasan dibagian kelamin korban, tandasnya.
Meski dalam keadaan sadarkan diri namun, hingga saat ini tersangka sendiri belum bisa dimintai keterangan terkait dengan musibah yang menimpanya. "Korban masih shock jadi belum bisa dimintai keterangan,katanya.
Kasus perkosaan itu sendiri di laporkan oleh orang tua korban berinisial Amh. Dia datang melaporkan kalau anaknya menjadi korban perkosaan yang dilakukan oleh pria yang baru dikenalnya. Namun, meski begitu dia tidak kenal dengan para pelaku.
Read more about Facebook by Www.Itoday.Co.Id
5. N ( nama disamarkan ), siswi SMK yang masih berusia 15 tahun diduga diperkosa belasan orang. Setidaknya polisi sudah membekuk 14 orang yang diduga pelaku dan terkait kasus perkosaan yang terjadi pada Sabtu (9/3) di Lapangan Turna, Cijantung, Jakarta Timur.
5. N ( nama disamarkan ), siswi SMK yang masih berusia 15 tahun diduga diperkosa belasan orang. Setidaknya polisi sudah membekuk 14 orang yang diduga pelaku dan terkait kasus perkosaan yang terjadi pada Sabtu (9/3) di Lapangan Turna, Cijantung, Jakarta Timur.
Gadis warga Ciracas, Jakarta Timur, yang terbujuk rayu kenalan baru di situs jejaring Facebook itu hingga kini, Kamis (14/3/2013) masih dirawat di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.
N ditangani 5 dokter spesialis. Menurut pengakuan R, rekan N, kenalan baru korban dari Facebook itu mengajak janji ketemuan. Dari perbincangan maya itu, akhirnya ‘kopi darat’ terjadi. Korban bahkan dijanjikan akan dibelikan kelinci yang berharga jutaan.
Semua komunikasi terjalin di Facebook. Sampai akhirnya pertemuan itu membawa petaka. N diduga diperkosa 13 pria di perkebunan kosong di kawasan Jakarta Timur. Dia kini masih terbujur lemah mental di RS Polri.
Sehari setelah kejadian, N sempat memperbarui status akun Facebook miliknya. Berikut status-status N sehari setelah perkosaan terjadi:
Minggu, 10 Maret 2013 pukul 18.24 WIB
“Gue gak tau lagi harus berbuat gimana tentang semua ini.. -__- . Bakal stres gua bay. Lo semua jahat.
“Gue gak tau lagi harus berbuat gimana tentang semua ini.. -__- . Bakal stres gua bay. Lo semua jahat.
Minggu, 10 Maret 2013 pukul 18.28 WIB.
“Kenapa sih lo pada ga bunuh gua sekalian… Biar llo pada puas ngambil semuanya dari gua… Gua bisa gila mikirin tuh hape..
“Kenapa sih lo pada ga bunuh gua sekalian… Biar llo pada puas ngambil semuanya dari gua… Gua bisa gila mikirin tuh hape..
6. Satu lagi remaja putri yang menjadi korban pemerkosaan yang diduga diotaki pria yang dikenalnya melalui Facebook. Untuk menangani kasus ini, ESR (13), nama korban, bersama ibunya, S (43), meminta pendampingan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).
Kepada wartawan di Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu (6/4/2013), ESR menuturkan, peristiwa tersebut berawal pada Jumat (1/3/2013). Seusai jam sekolah, dia bersama teman-temannya mengunjungi rumah temannya di daerah Ranco, Pejaten Timur, Jakarta Selatan.
"Setelah itu, saya di-SMS Ilham minta ketemuan di Ranco," kata ESR.
Ilham adalah pemuda berusia sekitar 20 tahun yang dikenal korban melalui Facebook. Ilham datang mengendarai sepeda motor dan mengajak ESR untuk jalan-jalan. Dari Ranco, mereka berangkat ke tempat tinggal Ilham di Gang Waru, Condet, Jakarta Timur.
"Dia bawa saya ke kamar dia. Di situ dia sempat maksa buka baju saya, tapi saya tolak," kata ESR.
Setelah itu, korban dipertemukan Ilham dengan rekannya yang bernama Ryan (17). Dia lantas diminta untuk beristirahat di kamar Ryan. Malam itu, ESR tidur bersama Ryan, tetapi tidak terjadi perlakuan kasar terhadapnya. Tindak kekerasan baru dialaminya pada keesokan harinya saat dia dibawa ke tempat tongkrongan pemuda Gang Waru. Di tempat tersebut, ESR dicecoki minuman keras yang mengakibatkan dirinya pusing. Dia kemudian digiring kembali ke kamar Ryan. Sebelum hilang kesadaran akibat pengaruh minuman keras, ESR masih bisa melihat kehadiran pemuda-pemuda lainnya yang menyusul tiga rekan mereka ke kamar tersebut.
"Ada sekitar sepuluh orang di situ. Setelah itu saya sudah enggak tahu apa-apa," kata ESR.
Korban baru bisa kembali ke rumahnya setelah lima hari lamanya disekap kelompok pemuda tersebut. Menurut S, ibu korban, pada Selasa (5/3/2013) malam, putri tunggalnya baru kembali ke rumah. Dia sebelumnya sempat melaporkan kasus kehilangan anak tersebut ke Polsek Metro Pasar Minggu. Pada Rabu (6/3/2013), dia mencabut laporan kehilangan sekaligus hendak melaporkan dugaan pemerkosaan terhadap anaknya.
Oleh Polsektro Pasar Minggu, S dianjurkan melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Timur sesuai tempat kejadian perkara. Laporan diterima Polrestro Jaktim yang dilanjutkan dengan rujukan untuk menjalani visum et repertum di RS Polri Kramat Jati. Keluarga pun telah meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Namun, yang dilakukan KPAI dirasa kurang memuaskan.
"KPAI hanya rekomendasikan korban ke psikiater di Pulogadung, belum ada pendampingan dalam proses hukum," kata Anton Priyatna (49), paman korban.
Hari ini keluarga menemani korban mendatangi Komnas PA. Sayangnya, mereka belum sempat bertemu Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait yang sedang berada di luar kota.
Editor :
Hertanto Soebijoto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar