Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah.
Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan
tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan
yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat.
"Sebetulnya aku tidak ingin bercerita
banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah
kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang
lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya
Allah, ada gunanya.
Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal
pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap
di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima
bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan.
Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar,
sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan.
Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M.
Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi,
begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami
berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan
manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah,
jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi
memang mendidik kami secara ketat.
Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang
amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu
bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang
keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila
memang berbuat salah."
Saat masih duduk di bangku sekolah kelas 3-5
SD Uje pernah meraih prestasi sebagai Juara MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an)
sampai tingkat provinsi. Setelah lulus SD, bersama kedua kakaknya, Alm. Ustad
H. Abdullah Riyad dan Ustad H. Aswan Faisal, melanjutkan studinya di Madrasah
Pondok Pesantren Daar Al-Qolam, Gintung, Jayanti.
"Berada di lingkungan keluarga yang taat
agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut
kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga
kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak.
Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5.
Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.
BERKEPRIBADIAN GANDA
Dulu, Ustadzah Dra. Tatu Mulyana tak tahu
harus bagaimana lagi menyikapi kenakalan putra ketiganya, Jeffry, yang
tidak pernah mau menghentikan kenakalannya. Putra kecilnya yang ia lahirkan
pada 12 April 1973, sangat luar biasa nakalnya, bagaimana jika sudah besar
nanti. Jika terus-terusan begini setiap hari anak itu bisa babak belur dihukum
oleh ayahnya, Ustadz Ismail Modal. Tidak mau ambil resiko lebih besar, Ustadzah
Tatu cepat-cepat kirim 3 putranya sekaligus ke Pondok Pesantren Daarul
Qolam di Gintung, Tangerang.
Ketiga putranya yang dikirim itu adalah
Abdullah Riyad, Aswan Faisal, dan Jeffry. Selain untuk menimba ilmu agama,
keikutsertaan kedua kakak Jeffry ke pesantren tersebut sekaligus juga
ditugaskan untuk mengawasi dan memperhatikan adiknya. Hati ibunda Jeffry pun
seketika lebih lega, keberangkatan anak-anaknya kepesantren Daarul Qolam lancar
tanpa kendala. Ia berharap keberangkatan Jeffry dengan kedua kakaknya dapat
membawa perubahan positif dalam kehidupan relijinya.
Namun Jeffry tidak memberikan kesempatan
ketenangan Ustadzah Tatu Mulyana berlangsung lama. Laporan demi laporan negatif
mengalir dari pesantren di Gintung Tangerang itu. Apalagi kalau bukan
disebabkan oleh “jagoan”nya Ustadzah Tatu, Jeffry yang ternyata masih suka
melakukan tindakan nakal. Sekali waktu anak itu membolos belajar, di lain waktu
dia pergi nonton bioskop. Dia malas untuk belajar dan sering tidur disaat
pesantren tengah beraktifitas.
Sebagai ibu, Ustadzah Tatu berharap putra
ketiganya dimaafkan dan diberi kesempatan. Asa dan harap Ustadzah pun
dikabulkan. Jeffry dipertahankan. Tapi saat dimana peraturan pesantren selalu
diabaikan dan larangan-larangan pesantren tidak lagi digubris maka tak ada lagi
alasan yang dapat dipertahankan. Kebijaksanaan pesantren terhadap seorang putra
keluarga H. Ismail Modal dan Hj. Tatu Mulyana sudah mencapai titik klimaks.
Tidak ada yang dapat dilakukan lagi oleh pihak pesantren Daarul Qolam kecuali
harus mengeluarkan Jeffry dari pesantren tersebut dengan segera. Ustadzah Tatu
tak lagi dapat berkata-kata. Ia cuma bisa tahan sesak didada. Tapi Jeffry itu
putra kandungnya. Tidak mungkin ia menyerah merawat dan mendidik Jeffry. Jika
bukan orangtuanya siapa lagi yang akan berupaya melakukan perubahan bagi
Jeffry.
"Orang bilang, anak tengah biasanya agak
nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku
padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren,
aku sering berulah.
Salah satu kenalakanku, di saat yang lain
salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main
atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering
dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda,
ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat
suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama
kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke
Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai
sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ,
dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam
kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya
berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di
pesantren.
Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren.
Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke
sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak
membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin
nakal."
Kemudian Ustadzah Tatu begitu sabar dalam
menghadapi ujian itu. Ia dengan ketabahannya memasukkan Jeffry ke sebuah
sekolah Aliyah. Asa dan harap kembali dibentang tinggi. Ustadzah Tatu kembali
berharap kebaikan buat putra ketiganya itu. Didalam rumah doa selalu dipanjatkan
untuk sebuah perubahan. Namun hati Jeffry tidak melunak dengan apa
yang telah terjadi. Hatinya tidak melembut dengan segala daya upaya yang
dilakukan ibundanya.
Setelah apa yang telah dilakukan ibundanya
selama ini. Setelah apa yang telah diupayakan keluarga, saudara dan kerabatnya,
dan setelah apa yang telah diusahakan lembaga keagamaan dan sekolah Aliyah
tempatnya belajar, kenakalan Jeffry ternyata tidak berhenti.
Setelah bersekolah di Aliyah dan masuk kuliah
jurusan Broadcast Jeffry malah terlibat pergaulan bebas. Ia mulai mengenal
dunia malam, ia mulai mengenal diskotik, ia mulai mengenal minuman keras, ia
mulai mengenal wanita. Bahkan lebih ekstreem lagi, ia sudah menjadi pengguna
narkoba. Bergetarlah hati dan jiwa Ustadzah Tatu mendengar kelakuan anaknya.
Jeffry yang ia lahirkan polos tak mengerti apa-apa kini menjadi duri dalam
daging ketika dewasa. Jeffry saat itu bukan seperti Jeffry yang pernah ia
lahirkan. Yang ia tahu, Jeffry yang ia lahirkan dan yang ditimang-timang setiap
hari adalah Jeffry yang ia harapkan menjadi anak sholeh. jeffry yang dapat
membuat orang tuanya bangga, Jeffry yang setiap waktu terdapat Al-Qur’an
ditangannya, yang rajin beribadah, dan yang bisa memberi pencerahan kepada
orang lain.
Rasa sedih menghujam begitu dalam. Tak terasa
air mata basahi kedua matanya. Ustadzah Tatu adalah keluarga relijius, begitu
pula keluarga suaminya, Ustadz Ismail Modal. Dimana dua keluarga ini dikenal
masyarakat luas sebagai keluarga terhormat dan terpandang. Bukan dari materinya,
bukan juga dari kedudukan, tapi dari kesuksesan agamanya. Lalu alasan apa yang
akan ia katakan kepada masyarakat mengenai prilaku Jeffry. Malu jika ditanya
masyarakat, malu kepada keluarga besarnya, malu kepada dirinya, dan yang lebih
terpenting, ia malu pada Allah SWT. Apa yang akan ia katakan pada Allah kelak
diakhirat dan apa yang hendak ia pertanggungjawabkan dihadapan Allah nanti atas
kelakuan anak kandungnya.
Pencarian seorang ibu pada anaknya
sesungguhnya tidak hanya berhenti pada sebuah stasiun. Jika tidak menemukan
anaknya di satu stasiun niscaya seorang ibu akan tetap menelusuri dan mencari
di stasiun-stasiun lain hingga ia menemukan kembali buah hatinya yang ia
cintai. Ustadzah Dra. Tatu Mulyana gelar tikar sembahyang. Panjatkan doa pada
Yang Kuasa. Panjatkan harap pada pemilik nyawa putranya. Ia inginkan putranya
kembali, putra yang kecil dulu pernah ia pangku dan ia suapi. Sementara diluar
sana Jeffry yang sedang didoakan tengah menikmati dentuman musik diskotik. Sementara
dirinya tengah dalam kondisi fly, akibat narkoba yang sudah mengikat erat
dirinya, hingga Jeffry tak lagi sadar dirinya siapa.
KENAL DUNIA MALAM

Hari berganti hari, bulan berganti bulan,
tahun berganti tahun, namun asa kedua orang tua Jeffry tak pernah pupus atau
berganti. Meski Jeffry semakin berani unjukkan jati dirinya yang ia rasa
tidak salah. Ia pelajari gerakan dance di diskotik lalu ia ikuti setiap
perlombaan dance yang diselenggarakan diskotik, bar, dan cafe.
Beberapa piala pun ia peroleh sebagai
pedancer terbaik. Tidak berhenti sampai disitu, Jeffry ikutkan diri sebagai
model acara fashion show yang digelar di beberapa diskotik. Ia juga ikutan
casting di sejumlah Production House.
"Memang, sih, tiap ada acara
keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga selalu mau bila ada teman
mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! Aku juga
sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas
dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA memang suram bagiku. Masa yang tak
pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku
masih 15 tahun, aku bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun
dengan yang lebih tua. Di sekolah ini aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA
lain, keseharianku tak jauh berbeda. Malah makin parah.
Dari perkenalan dengan beberapa teman, aku
mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, aku mulai kenal dunia malam. Aku
masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka
mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian
di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang
yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi seorang penari, bertualang dari satu
diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance,
aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong
piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi
penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang
masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut
fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi
menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum.
Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA."
MAIN SINETRON
Hari berganti hari, bulan berganti bulan,
tahun berganti tahun, namun asa kedua orang tua Jeffry tak pernah pupus atau
berganti. Meski Jeffry semakin berani unjukkan jati dirinya yang ia rasa
tidak salah. Ia pelajari gerakan dance di diskotik lalu ia ikuti setiap
perlombaan dance yang diselenggarakan diskotik, bar, dan cafe.
Beberapa piala pun ia peroleh sebagai pedancer
terbaik. Tidak berhenti sampai disitu, Jeffry ikutkan diri sebagai model acara
fashion show yang digelar di beberapa diskotik. Ia juga ikutan casting di
sejumlah Production House.
Di tahun 1990 Jeffry mendapat peran di
sinetron Pendekar Halilintar. Dan inilah titik terburuk hubungan antara Jeffry
dan orang tuanya. Ustadzah Tatu nyaris menyerah, tapi beruntung suaminya,
Ustadz Ismail Modal masih kuat untuk terus menentang apa yang dilakukan Jeffry.
Mengetahui Uje bermain sinetron, ayahnya
mati-matian menentang. Ayahnya merasa tahu persis bagaimana lingkungan dunia
film. Ayah Uje sendiri pernah bermain dalam film action Macan Terbang
dan Pukulan Berantai. Ditentang sang ayah tak membuatnya surut. Nasihat ayahnya
tak lagi dia dengarkan. Sementara tawaran main sinetron yang berdatangan
membuatnya makin yakin dengan jalan hidupnya. Akhirnya konflik antara dia dan
orang tua.
Meski konflik dengan orangtua, kariernya di
dunia seni peran terus melaju. Uje bahkan mendapat peran dalam sinetron drama
Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan WD Mochtar.
Penobatannya sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang
diadakan TVRI tahun 1991 makin membuatnya bangga dan jauh dari orangtua.
Pada orang tuanya yang seorang Ustadz dan
Ustadzah Jeffry pertahankan ego bahwa ia bukan seorang pemadat dan peminum
miras, lalu keikutsertaan dirinya dalam dunia entertainment dan peran bukanlah
sebuah kesalahan, karena itu adalah sebuah seni alami. Sangat kecewa dan sakit
hati mendengar penuturan Jeffry. Darah daging mereka yang ternyata memiliki
karakter bukan seperti karakter mereka.
Jeffry tidak menganggap penentangan terhadap
kedua orang tuanya sebagai bentuk kepongahan terhadap yang hak, ia justru
menganggap selama ini sikap orang tuanyalah yang salah dan apa yang
dilakukannya itulah yang benar. Keyakinannya ini semakin kuat manakala ia
memperoleh gelar Pemeran Pria Sinetron Remaja terbaik versi TVRI yang diadakan
tahun 1991.
Betapa bangga dan pongah dirinya saat menerima
piala penghargaan itu. Segala keinginan dan citanya telah tercapai. Merasa
semakin yakin dan ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal
terbaik dalam hidupnya. Dan tentunya, apa yang selama ini diinginkan orang
tuanya tidak pernah memuaskan batin dan raganya. Baik Ustadz Ismail maupun
Ustadzah Tatu, laksana oleng diri melihat apa yang terjadi pada putranya itu.
Jika dinasihati agama rasanya percuma, karena Jeffry sudah banyak tahu tentang
agama dan hukum-hukumnya. Keyakinannya pada apa yang dilakukannya adalah tidak
lebih dari sebuah pembelaan diri dari hobi dan tindakan yang menyalahi syar’i.
Maka tidak ada yang dapat dilakukan kecuali tetap berupaya merubah putranya
sambil menunggu apa yang disebut dengan hidayah...
"Aku mengalami masa yang menurutku paling
dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari,
memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran.
Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih latihan menari di
Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah
aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain yang sedang syuting,
sambil diam-diam belajar.
Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di
kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering
mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik,
aku sering mengamati mereka.
Nah, ketika para pemain sinetron sedang
latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan.
Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku
malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya,
saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran. Aku
diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat
peran."
Tahun 1990, aku main sinetron Pendekar
Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film.
Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa? Rupanya Apih tahu persis seperti
apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara
lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari beliaulah aku menuruni darah
seni.
Ditentang Apih tak membuat langkahku surut.
Mungkin jalan hidupku memang harus begini. Tak satu pun larangan Apih yang
mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi
kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin
yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena
merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah.
Sebagai bentuk perlawananku pada orang tua,
aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut
juga kupanjangkan. Aku seperti tak punya orang tua. Bahkan, tak pernah
terlintas dalam benakku bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. Yang
kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata.
Pada saat bersamaan, karierku di dunia seni
peran terus melaju. Aku semakin mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku
mendapat peran dalam sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien
Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar.
Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah
dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang
diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari
orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik
buatku, ketimbang pilihan orangtuaku."
***
“DI KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH”
Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri
Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Sejak kenal sinetron, aku makin menyukai dunia
akting. Aku tak peduli meski Apih menentangku. Namun, belakangan aku paham, di
balik etidaksetujuannya, sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua
cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron
Sayap Patah yang kumainkan ditayangkan.
Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar
mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi. Setelah
itu, aku mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih,
Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namaku makin mencuat, rezeki juga terus
mengalir.
Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran
tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti.
Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang
satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau
kurasa belum “on”, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku
pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke
wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa
melihat dengan lebih jelas. Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus
berlangsung.
KECANDUAN KIAN PARAH
"Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal
karena sakit. Aku menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan
nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri di samping tempat tidurnya di
rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti itu, Apih mengatakan, laki-laki
tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata. Bayangkan, bahkan di
saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih
padaku yang durhaka ini.
Sore itu aku dimintanya pulang ke rumah dan
beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu aku pulang, Allah mengambilnya.
Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk
jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas
kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak
pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak itu, Umi membesarkan kami berlima.
Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang baik, namun aku kembali ke masa
seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu menghantuiku karena ditinggal
Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin menjadi sepeninggal Apih.
Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa berprestasi dan
punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya.
Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa
dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak
kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu
itu, aku beralasan karena ada masalah di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa
pun, termasuk broken home atau teman, tidak bisa dijadikan alasan. Diri
sendirilah alasannya, karena bagaimana pun, kita lah yang menentukan semua yang
terjadi pada diri kita.
Jadi, tidak perlu membawa-bawa orang lain atau
keadaan. Namun, kesadaran seperti ini mana mungkin muncul pada diriku yang
waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku
ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan
kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah
sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan
kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang.
Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis
dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan."
NAMA DICORET
"Tak perlu aku menceritakan detail
tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari aku merasa menderita
karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku benar-benar ketakutan!
Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu berburuk sangka pada apa
pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. Yang
kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran
bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku sibuk mengintip dari bawah
pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku.
Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering
merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku
tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.
Pada saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba
membuatku termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada
lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di
dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy.
Di saat aku sendiri, ada Umi yang selama ini
sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya
yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik
dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama
aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar
biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk
bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku."
DIAJAK UMI UMRAH
"Sungguh, aku merasa sangat ketakutan
ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara
sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu
jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu
bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya
penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi.
Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku
sempat menantang maut. Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan
saat ada masalah dengan seorang cewek. Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu
kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatku sadar
bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.
Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali
semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik.
Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf
atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah
kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu
mengajakku berumrah.
Dengan kondisiku yang masih labil dan rapuh,
kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini aku berniat sembuh dan kembali ke jalan
Allah. Di sana, aku mengalami beberapa peristiwa yang membuatku sadar pada
dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh.
Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada
Allah.
Aku lalu keluar, berjalan menuju makam Nabi
Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari pintu masjid, rasanya seperti ada
yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu
rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok. Air mataku yang dulu tak
pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak
akan melakukan lagi semua itu.
Bagai sebuah film yang sedang diputar, semua
dosa yang pernah kulakukan terbayang jelas di pelupuk mataku silih berganti,
mulai dari yang kecil sampai yang besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat
permintaan ampunan pada Allah. Di Mekkah, di hadapan Kabah, aku merapatkan
badan pada dindingnya.
Aku bersandar, menengadahkan tangan memohon
ampun karena terlalu banyak dosa yang kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah
Suci ini melakukan dosa lagi, aku minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku.
Namun, seandainya punya manfaat untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku
yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik.
Aku mencoba bertahan dalam kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar
biasa."
*****
BIDADARI CANTIK JADI PEMBANGKIT HIDUP
Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya
Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi
istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustaz cukup
berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah.
"Sepulang umrah, aku mencoba hidup lurus.
Namun, lagi-lagi aku tergoda. Suatu malam, aku dan teman-teman berencana nonton
jazz di Ancol. Aku memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena kami
sudah sepakat untuk berhenti memakai. Ternyata, salah satu temanku masih saja
membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia polisi di depan Hailai.
Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku,
temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil
yang kami pakai adalah mobilku. Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi
dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Kucoba telepon Umi untuk
menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau menerima teleponku.
Si penerima telepon malah diminta Umi untuk
mengatakan, beliau tak ada anak bernama Jeffry. Hatiku tercabik-cabik. Pedih
rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui, pastilah hati Umi sudah
sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya sudah mengaku bertobat,
malah kembali memilih jalan yang salah. Meski aku sudah bersumpah demi Tuhan
tidak memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Umi
Sungguh bersyukur, Allah masih berkenan menolongku."
Bertahun-tahun ternyata Jeffry tak juga
merubah diri, hingga di tahun 1999 ia menikahi wanita asal Semarang, Pipik Dian
Irawati Popon, seorang model wanita yang cantik. Pernikahan dua insan itu tak
lebih dari sebuah pernikahan antara model wanita dan aktor pendatang baru.
Pipik tidak banyak menuntut. Ia bersedia menerima Jeffry sebagai pendamping
hidupnya apa adanya. Pernikahan diadakan di Semarang tanpa resepsi dan pesta.
Yang diharapkan Pipik bukan kemewahan pesta, tapi kesakralan memasuki gerbang
rumah tangga.
"Datang seorang gadis cantik dalam
hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku
sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta. Gadis bernama Pipik Dian Irawati
ini seorang model sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang."
Pengorbanan Pipik dianggap angin lalu oleh
Jeffry. Tingkah hitamnya lagi-lagi diperlihatkan dihadapan istri yang baru saja
dinikahinya. Jeffry habiskan malam pengantinnya dalam kondisi benar-benar sakaw...!!
Pipik benar-benar terkejut melihat sebuah kenyataan dalam hidupnya. Ia bersedih
melihat ulah suaminya, tapi dalam hatinya ia bertekad akan merubahnya. Atas
bujukan istrinya, Jeffry mulai mau melakukan terapi diri di sejumlah ahli dan
ustadz, terlebih saat mengetahui Pipik yang dicinta tengah hamil. Begitu
kuatnya keinginan Jeffry untuk berhenti dari narkoba hingga setiap kali rasa
kecanduan itu datang, Jeffry menyakiti dirinya sendiri. Awalnya pertama Pipik
melihatnya ia merasa ekstreem, namun ternyata hal itu cukup efektif mengurangi
kecanduan suaminya.
Suatu
ketika secara tiba-tiba ibundanya, Ustadzah Tatu dan kakaknya, Ustadz Abdullah
Riyadh mengajaknya umroh. Jeffry pun berangkat. Saat memasuki kota Makkah, saat
dirinya berhadapan dengan Ka’bah, Jeffry yang dulu pernah pongah dan angkuh
menjadi bukan siapa-siapa dirumah suci Allah itu. Debu dan pasir gurun mungkin
lebih baik dari dirinya. Dan tiba-tiba tangis Jeffry meledak. Itulah hidayah
ketika ia datang. Jeffry dibukakan mata hati dan batinnya atas segala perbuatan
yang selama ini ia lakukan. Ia sangat-sangat menyesal. Film dirinya seolah
tengah diputar kembali oleh Allah tepat ketika ia berhadap-hadapan dengan Ka’bah.
Jeffry tidak kuat. Rasa malu pada Allah mengapa sangat menderanya saat itu.
Kebodohannya dimasa lalu, rasa malu yang teramat sangat, dan penyesalan yang
sudah berada dititik puncak. Tak sadar diri ia adu kepalanya berkali-kali di
dinding Ka’bah. Tak peduli lagi dengan rasa sakit, apalagi dengan ribuan orang
yang tengah thawaf disekitar Ka'bah. Yang ia tahu hanya meminta maaf, meminta
ampun, mengharap belas, dan meminta kasih Sang Empunya langit dan bumi. Maka
Jeffry pun memasuki kondisi taubatan nasuuha.............
Sepulangnya
dari Mekkah, kakak Jeffry, Ustadz Abdullah Riyadh mewarisi sesuatu padanya.
Jeffry harus meneruskan dakwahnya di Jakarta. Genggaman dan rangkulan kakaknya
saat serah terima tugas itu kelak akan membuatnya yakin untuk mantapkan hati
dan langkahkan diri menjadi sosok pendakwah yang digandrungi di negeri
ini......
CUEK
SAAT PACARAN
(Berikut
ini adalah penuturan Pipik: Aku pertama kali melihatnya sedang makan nasi
goreng di Menteng sekitar tahun 1996 – 1997. Rambutnya gondrong. Waktu itu, aku
bersama Gugun Gondrong. Setahuku, Jeffry adalah pemain sinetron Kerinduan,
karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun
melarangku.
Tak
tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya.
Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan
saling menelepon. Aku enggak tahu kapan kami resmi pacaran, karena enggak
pernah “jadian”. Dia juga tak pernah menyatakan cinta. Waktu pacaran, dia cuek
setengah mati.
Awalnya,
semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon
Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Jeffry naik taksi
dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp 50 ribu,
mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton
sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton.
Sejak
itu, kami sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan.
Semakin dekat dengannya, aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas
berat. Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku
sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur
muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau
meninggalkan dia sendiri.
Tentu
saja keluargaku tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka
baru tahu sekarang, setelah membaca kisah hidupnya di berbagai media. Sementara
itu, aku sibuk tur keluar kota sebagai model, sehingga kami sering tak ketemu.
Akhirnya kami putus. Waktu akhirnya ketemu lagi, ternyata dia sudah punya pacar
lagi. Karena masih sayang, aku sering membawakannya hadiah dan memberi
perhatian. Setelah Jeffry putus dari pacarnya, kami kembali bersatu.)"
JUALAN
KUE
"Pipik
sangat berarti buatku. Dia mengerti, peduli dan perhatian padaku. Padahal, aku
sempat hampir menikah dengan orang lain. Ternyata Allah sayang padaku. Allah
menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi itu bukan untukku. Pipik bagai
bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia memberi keyakinan, menikah
dengannya akan membawa perubahan besar dalam hidupku.
Aku
mendatangi Umi dan minta izin untuk menikah. Luar biasa, Umi tetap menerimaku
dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis, Umi mengizinkanku menikah. Aku
sendiri terbilang nekat. Sebab, waktu itu aku tak punya-apa. Badan pun kurus
kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid yang kuderita tak kunjung
sembuh. Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya.
Untuk
menghindari maksiat, kami menikah di bawah tangan pada tahun 1999. Teman-temanku
yang sekarang sudah meninggal karena over dosis, sempat menghadiri
pernikahanku. Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi. Sekitar 4 – 5 bulan
setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang.
Namun,
menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan
getahnya. Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk
membeli barang haram tersebut.
Kesulitan
lain, aku dan Pipik sama-sama menganggur. Pernah kami mencoba berdagang kue.
Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu.
Lalu kami titipkan ke toko kue.
Tapi
mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah.
Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya kami berhenti
berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan
sekaligus kesabaran.
MAKAN
SEPIRING BERDUA
"(Kesetiaan
Pipik begitu luar biasa. Simak penuturannya berikut ini. Perasaan sayang yang
sangat kuat membuatku mantap menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia
pecandu, bahkan pernah mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya.
Aku banyak mengalami hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin
aku sudah tidak bersamanya lagi.
Awal
menikah, kami tinggal di rumah Umi. Meski hidup seadanya, beliaulah yang
membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang makan sepiring berdua, karena
memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari
suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja.
Tapi
aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi
kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku.
Beruntung, Umi sangat sayang padaku.
Aku
sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama
saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan,
hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil. Mungkin
dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya yang seperti itu.)"
HIDUP
DI JALAN ALLAH
"Pelan-pelan,
aku kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun
2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal
karena kanker otak, memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga
Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura.
Fathul
memang seorang pendakwah. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya
diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang
dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal
pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan.
Selanjutnya,
kakakku memintaku untuk mulai menjadi ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian
kupilih. Betapa indah hidup di jalan Allah. Aku mulai berceramah dan diundang
ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah
membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku
mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar.
Alhamdulillah,
makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku
banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun
teve. Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk
siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan,
juga punya hak untuk mendapatkan dakwah.
Kebahagiaan
kami bertambah ketika tahun 2000 itu, lahir anak pertama kami, Adiba Kanza
Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua Mohammad Abidzan Algifari juga hadir
di tengah kami. Mereka, juga istriku, adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku.
Kehidupan kami makin lengkap rasanya.
Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi
orang yang lebih baik. Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan yang
baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta
pilihlah teman yang baik."
Dimalam
yang sepi, pada 26 April 2013, Allah menjemputnya disebuah persimpangan jalan.
Disaksikan pepohonan dan binatang malam, Ustadz Jeffry hembuskan nafas terakhir
dengan senyum kemenangan. Ustadzah Tatu menangis bangga. Putranya kembali
keharibaan-Nya dalam keadaan bersih dan mulia...
Dari Pemakai Narkoba Yang Dibenci Hingga Menjadi Ustad Gaul Yang Dicintai Semua Orang
Jadilah orang yang kepergiannya ditangisi dan didoakan banyak orang. Tidak mengapa jika kehidupan Anda dahulu begitu suram bahkan menjadi orang yang dibenci masyarakat. Jika pada akhirnya Anda bisa berubah lebih baik, maka itulah pencapaian hidup terbaik yang bisa Anda lakukan sebelum kembali pada-Nya.
Hampir semua orang tahu bagaimana kelamnya kehidupan remaja Ustad Jeffry Al Buchori. Berkali-kali Uje menceritakan secara terbuka bagaimana bobroknya dirinya kala itu. Dari hobi dugem hingga menjadi pemakai narkoba. Semua diceritakan sebagai pelajaran agar tidak ada orang yang mengalami hal yang sama.
Saat Uje sudah menjadi seorang ustad, masa lalu itu justru menjadi kisah nyata yang menggambarkan bagaimana godaan dunia bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kehidupan yang kelam dan dibenci masyarakat. Karena itulah.. banyak orang menyukai perubahan yang terjadi pada Ustad Jeffry Al Buchori. Bukan rahasia jika banyak orang tidak bisa bangkit dari kepahitan masa lalu, tetapi Uje membuktikan bahwa dia bisa, semua orang pasti bisa berubah jadi lebih baik, dia selalu optimis akan hal itu.
Selamat Jalan, Uje..
Suasana pemakaman Uje
Tidak ada komentar:
Posting Komentar