Dulu Ingin Jadi Dokter, Malah Jadi Doktor Pajak
Haula Rosdiana baru saja dikukuhkan sebagai guru besar bidang perpajakan Universitas Indonesia.
Dia adalah guru besar perempuan pertama di bidang tersebut. Banyak
rintangan dan hambatan yang harus dia tempuh untuk meraih predikat
tersebut.
Jumat (14/06), Gedung B Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia
(UI) terlihat ramai. Beberapa mahasiswa dari jurusan Administrasi
Fiskal terlihat memasuki ruangan kecil yang bertuliskan Kantor Jurnal Bisnis dan Birokrasi di lantai II.
Rupanya
mereka ingin berkonsultasi dengan dosen bidang studi tersebut, Haula
Rosdiana. Perempuan berkerudung putih itu merupakan guru besar tetap
bidang Ilmu Kebijakan Pajak FISIP UI. Dia juga merupakan satu-satunya
guru besar perempuan pertama Indonesia di bidang ilmu pajak setelah dikukuhkan oleh Pejabat Rektor UI Muhammad Anis, pada Rabu (12/06), lalu.
Duduk
santai, warga Kota Bogor itu memberikan sejumlah saran dan arahan
kepada para mahasiswanya. Tak ada satu materi mengenai pajak yang tidak
diketahui Haula Rosdiana. Sifatnya yang supel dan ingin membagi ilmu
membuat perempuan kelahiran Bogor 5 Januari 1971 itu, banyak disenangi
mahasiswanya.
Kesibukannya
yang begitu padat tak membuatnya lupa kepada mahasiswa yang butuh
bimbingan mata pelajatan pajak. "Saya bisa berhasil seperti ini karena orang tua. Jadi sudah sepatutnya saya memberikan ilmu kepada adik-adik yang masih belajar. Toh, ilmu ini harus dikembangkan dan diberikan kepada setiap orang yang membutuhkan," kata Haula, kepada INDOPOS, membuka pembicaraan.
Haula
pun menceritakan kisah perjalanan karirnya yang cukup berat. Kata dia,
setelah lulus dari SMAN Kota Bogor pada pertengahan 1989, sebenarnya dia
bercita-cita ingin menjadi dokter. Profesi yang dia idam-idamkan senjak
sekolah dasar.
Namun,
karena terbentur masalah biaya, Haula pun mengurungkan niatnya. Sambil
mencari perguruan tinggi lain, sang ayah (Alm) Hannibal diam-diam
mengarahkannya untuk masuk ke Jurusan Administrasi Niaga.
”Sempat
gundah juga, karena itu bukan keinginan saya melainkan keinginan orang
tua. Waktu itu orang tua saya berpikir kedokteran itu membutuhkan biaya
besar dan samgat susah cari kerja di RS. Makanya saya dianjurkan masuk
FISIP jurusan Ilmu Administrasi Fiskal UI,” ungkap ibu tiga anak ini.
Jalur
ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) di Bogor, Haula pun
diterima di FISIP UI jurusan Administrasi Fiskal. Bersama sebelas
rekannya, dia pun menimba ilmu di kampus berjaket kuning itu.
Saat
itu dana yang didapat dari orang tuanya untuk kuliah sangat terbatas.
Yakni, Rp 90 ribu/bulan untuk membayar kos dan uang makan. Serta Rp120
ribu /semester untuk bayaran kuliah.
Karena
keterbatasan ekonomi keluarga, dirinya pun memutar otak untuk
meringankan beban orang tuanya. Sebab, adiknya pun ikut berkuliah di
kampus tersebut dengan jurusan yang berbeda.
Dua
tahun berjalan, Haula muda mulai menunjukan pretasi akademik. Nilai di
atas rata-rata membuat perempuan yang masih terlihat cantik itu dilirik
dosen untuk dijadikan asisten. Dari sana, dirinya mendapatkan dana
tambahan untuk menyelesaikan studi tersebut.
Tak sampai di sana keberuntungan anak ke empat dari enam bersaudara ini.
Sang adik yang berkuliah di UI pun melapor kepada dia adanya tunjangan
dinas dari kampus yang bisa diikuti semua asisten dosen sebesar Rp45
ribu/bulan. Dan dari sana Haula mencoba mendaftar dan masuk ke dalam
ikatan dinas UI.
”Saya
bersyukur diberikan kemudahan dan jalan dari Allah. Semua yang saya
dapat pada waktu itu tak jauh berkat doa kedua orang tua. Dari sini saya
terus memacu semangat untuk menyelesaikan kuliah dan menjadi Doktor
bukan dokter lagi,” ujarnya berseloroh.
Di
kampus, seluruh perhatiannya tertuju pada mata pelajaran. Di tempat itu
dirinya mulai mempelajari dan memahami mengenai filosifi perpajakan
secara detail. Akhirnya, Haula dapat menyelesaikan pendidikan S1-nya
selama empat tahun. Dia juga merupakan satu-satunya mahasiswa termuda
Jurusan Ilmu Administrasi Fiskal terbaik UI.
Usai
menyelesaikan studinya, Haula banyak diincar perusahaan asing untuk
dijadikan konsultan pajak dengan gaji menggiurkan. Akan tetapi, seluruh
tawaran itu ditolaknya karena ikatan dinas di UI. Dari sana, dia
melanjutkan studi S2 pada bidang yang sama hingga lulus pada 1998.
”Di
kampus saya diangkat menjadi staf pengajar di Departemen Ilmu
Administrasi FISIP. Sambil kuliah dan menikah saya terus jalani studi
sampai selesai. Saya juga kerja sebagai konsultan pajak di sebuah
perusahan, tetapi tidak terikat. Sekedar buat tambahan pemasukan saja,”
jelas perempuan berkulit putih ini.
Usai
menyelesaikan S2, sambung Haula, dirinya pun diangkat menjadi ketua
program Studi Administrasi Pajak D3 UI. Lantaran keinginannya sangat
besar untuk menjadi Doktor, Haula pun terus melanjutkan studinya ke
jenjang S3 di kampus tersebut.
Sambil
menempuh gelar Doktornya itu, Haula mendapatkan tawaran staf ahli
DPR-RI untuk Amandemen RUU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan,
serta RUU Pajak penghasilan pada 2005 hingga 2009. Ditambah dengan
tawaran menjadi Observer United
Nations the Committee of Experts on International Coopertion in Tax
Matter, Department of Economic and Social Affair 2008-2011. Hingga, Observer pada Studi Group on 39th ASIAN Tax Administration and Research (SGATAR) pada 2009.
”Dari
hasil kerja saya, perekonomian keluarga bisa terbantu. Sangat bangga
dengan apa yang saya dapat. Keinginan saya hanya satu, ingin
mengedepankan idealisme dalam menjalankan perpajakan. Karena di dalam
perpajakan perekonomian bisa terbangun perekonomian pemerintah dan
masyarakat yang lebih baik, sehingga negara bisa maju. Sekarang ini sistem perpajakan Indonesia masih carut marut dan berantakan, dan itu yang menyebabkan ketimpangan perekonomian,” tegas Haula dengan lantang.
Keahliannya di bidang ilmu pajak membawanya menjadi guru besar di bidang Ilmu Perpajakan di Indonesia. Dengan penelitian berjudul ’Spektrum Teori Perpajakan Untuk Pembangunan Sistem Perpajakan Indonesia Menuju Persaingan Pajak Global’ menghantarkannya menjadi Profesor alias Guru Besar di Bidang Pajak.
Di penemuan itu juga terdapat diagram Kebijakan Pro Taxpayer Cash-flow Tax
mengenai alur pajak yang masuk ke pemerintah. Bahkan puluhan buku,
jurnal dan modul mengenai pajak telah tercetak dan menjadi acuan
kurikulum pada universitas bidang ilmu Administrasi Fiskal dan
Perpajakan.
Kata
dia, semua itu di dapatnya melalui kerja keras dan bantuan orang tua.
Dia masih ingat, selama duduk dibangku sekolah, (Alm) Hanibal selalu
membawanya membeli dan membaca buku impor di kota hujan tersebut.
Keduanya kerap menggunakan vespa tua ke sebuah toko di depan Tugu
Kujang, Bogor.
Dari sana minat belajarnya tumbuh besar. Dan itu pula yang terus diterapkannya kepada ketiga anaknya di rumah.
““Berkat pilihan orang tua masuk jurusan Administrasi Fiskal saya bisa seperti sekarang. Kenapa saya lebih tertarik dengan hal ini,
karena banyak penyelewengan pajak dan sistem yang tidak benar hingga
Negara mengalami kerugian besar. Yang jelas saya ingin mengubah
pandangan dan pola pengelolaan pajak yang benar, sehingga perekonomian
Negara stabil. Tidak perlu lagi menaikan BBM atau lain sebagainya yang
tidak penting,” tandasnya sambil menunjukan diagram perpajakan.
Kendati telah menjadi guru besar, tak lantas perempuan berdarah Jawa Barat ini
tinggi hati. Kesederhanaannya dan sopan santun serta keterbukaan
terhadap mahasiswa yang datang untuk meminta pendapat dan ilmunya di
bidang Pajak itu masih sama seperti yang dulu. Sifat itu tak ingin
dirubah Haula sampai dirinya bisa menciptakan generasi perempuan penerus
yang ahli di bidang pajak. (*)
sumber: INDOPOS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar